Kena Karma

Gw dan tiga orang temen-temen cewe ini sering jadi pusat perhatian dan tontonan di berbagai tempat umum. Kami berisik, berisiknya pake bahasa Inggris, dan bercandanya hardcore kadang suka sampai guling-gulingan.

Saat itu kami ke Bali. Setelah jalan-jalan seharian, kami sampai hotel jam 9an malam. Panas matahari dan kemacetan Bali rupanya belum menguras energi kami. Jadi ketika di kamar kami bercanda barbar dan tertawa terbahak-bahak. Di tengah gelak tawa kami, telfon kamar berdering. Kami langsung terdiam karena kami bisa menebak kalo telfon ini ada hubungannya dengan kelakuan kami.

Benar 100%. Kami diminta untuk tidak terlalu berisik karena kata si front officer suara kami terdengar sampai lobby dan beberapa tamu di sana complain. Wah! Apa kami jadi diam? Justru tidak. Hal ini bikin kami makin pengen ketawa. Kami kembali berisik sampai kami dapat telfon dari front office untuk kedua kali nya. Kami iya-iya aja dengan permintaan kedua untuk tidak terlalu berisik ini. Setelah gagang telfon ditutup kami berusaha untuk ngingetin satu sama lain buat ga berisik. Satu sama lain saling malakukan “Sssshhh shut up!” Tapi ini justru bikin kami ingin tertawa semakin kencang. Sampai akhirnya terdengar lah suara ketukan di pintu kamar kami. Sempat tegang tuh. Tidak ada dari kami yang mau membuka pintu. Takuuuutt… Takut tiba-tiba di balik pintu itu ternyata polisi.

Akhirnya temen gw yang bukan orang lokal ini berani maju dan membuka pintu. Taunya yang mengetuk itu adalah tamu yang menginap tepat di samping kamar kami. Dia bilang kalo dia dan keluarganya terganggu dengan suara kami dan anak-anak nya jadi ga bisa tidur. Kurang lebih begini obrolan penuh ketegangannya:

Tamu Yang Complaint: “Could u please turn down your voice. Do u realize what time it is?”
Teman Yang Berani: “It’s 10pm. This is Bali. Do you realize that no one goes to bed at 10 in Bali?
….
….
Obrolan lanjut sebentar tapi gw lupa persisnya gimana.

Akhirnya malam itu kami bisa mengontrol tawa kami sampai medium volume. Namun, besok-besokannya suara Dolby surround sound kami terdengar lagi di restoran dan di tempat spa.

Beberapa bulan kemudian, gw nginep di hotel. Tepat di sebelah kamar gw, ada entah berapa belas remaja tanggung yang nginep dalam satu kamar. Mereka ga hanya berisik di kamar tapi juga berlari-lari di koridor. Ingin rasanya complain, tapi untung di kamar gw ada cermin full body jadi gw bisa ngaca sama kelakuan gw sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s